13 Juni 2014

Dimensi Baru Pariwisata

Pariwisata syariah akan menciptakan kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan usaha kecil menengah. PENGGUNAAN konsep syariah rupanya bukan monopoli industri finansial saja. Kini, bisnis pariwisata pun diarahkan untuk lebih banyak menerapkan prinsip syariah. Istilah kerennya, wisata syariah.

Indonesia, dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia, tentu saja punya potensi luar biasa untuk menjadi destinasi wisata syariah dunia. Apalagi negeri ini juga punya keunggulan lain karena memiliki hubungan sejarah dan budaya yang erat dengan perkembangan peradaban dunia Islam.

Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, wisata syariah pada prinsipnya merupakan produk jasa yang universal karena dapat dimanfaatkan semua orang, termasuk wisatawan nonmuslim sehingga wajar jika berkembang pesat.
“Karena itu, kita akan terus kembangkan ini. Pada tahap awal kita menetapkan sembilan destinasi wisata syariah,“ kata Mari pada The 1st OIC International Forum on Islamic Tourism (OIFIT) 2014 yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (2/6).
Forum tersebut menjadi gelaran pertama bagi Indonesia mempromosikan kekuatan wisata syariahnya kepada negara-negara anggota OKI.
Menurut Mari, penetapan destinasi wisata syariah itu dinilai berdasarkan kesiapan sumber daya manusia, budaya masyarakat setempat, serta fasilitas wisata yang tersedia, seperti hotel dan restoran.

“Wisata syariah bukan hanya berupa daya tarik objek wisata religi atau tempat ziarah, tetapi harus ada fasilitas pendukung yang memenuhi standar berdasarkan ketentuan syariat Islam,“ terangnya. Saat dimintai pendapat, CEO dan Founder Islamic Tourism, Education, and Culture (ITEC) Farel Muhammad Rizqy mengatakan pembinaan mengenai wisata syariah sebenarnya telah dimulai sejak 2012 dengan nama The Indonesian Islamic Travelling and Education for The World.

Namun, sampai saat ini permintaan wisata syariah dalam negeri kebanyakan masih datang dari kelas menengah dan menengah ke atas.
Peluang besar Jika ditilik dari pasarnya, peluang mengeruk pendapatan besar dari wisata syariah memang sangat besar.
Menurut kajian Thomson Reuters dalam State of the Global Islamic Economy (2013), total pengeluaran umat Islam dunia untuk keperluan makanan halal dan gaya hidup pada 2012 sebesar US$1,62 triliun dan diperkirakan meningkat menjadi US$2,47 triliun pada 2018.

Untuk Indonesia, dari kunjungan wisatawan mancanegara ke Tanah Air pada 2010 sebanyak 7 juta, 17% merupakan wisatawan muslim. Pada 2015 jumlah itu diproyeksikan naik menjadi 20%-25%.
“Pariwisata syariah merupakan dimensi baru dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pertumbuhan ekonomi, terutama negara-negara OKI,“ kata Dirjen Pemasaran Pariwisata Kemenparekraf Esthy Reko Astuti.
Bahkan, pengembangan wisata syariah, sebutnya, akan menciptakan kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah.

Esthy menyebutkan pada 2012, secara global warga muslim membelanjakan uang untuk wisata senilai US$137 triliun, termasuk untuk haji dan umrah. “Diharapkan akan meningkat menjadi US$181 triliun pada 2018.“
Demi tujuan itu, Esthy merekomendasikan agar Indonesia dan negara anggota OKI menerapkan kebijakan yang mempermudah iklim investasi dan fasilitas visa.(Ant/S-2) Media Indonesia, 6/6/2014; 18